Senin, 26 September 2011

Silabus Filsafat Ilmu Smester 1 Psikologi UIN Bandung



Mata Pelajaran            :  Filsafat M
Fak./Semester              :  Psikologi/II
Kelasa                         :  A, B, C

Kompetensi                                                              
1.            Mahasiswa mampu memahami teori-teori dan konsep filsafat Manusia
2.            Mahasiswa Memiliki kemampuan mengembangkan  teori-teori dan konsep filsafat Manusia
3.            Mahasiswa Memiliki kemampuan menerapkan teori-teori dan konsep filsafat Manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Materi


1.            Pengatar Filsafat Ilmu (pengertian, Objek, Metode, Tujuan Pembelajaran Filsafat Ilmu)
2.            Manusia dan Ilmu Pengetahuan
3.            Urgensi Metafisika dalam Filsafat Ilmu
4.            Hubungan Filsafat Ilmu dengan Psikologi
5.            Hakekat Ilmu
6.            Dasar-Dasar Pengetahuan
7.            Jenis Pengetahuan
8.            Sumber Filsafat Ilmu
9.            Lingkupan Filsafat Ilmu
10.        Problem-Probel dalam Filsafat Ilmu
11.        Ilmu Sebagai Aktivitas Penelitian,  Metode Ilmiah, Pengetahuan Sistematis
12.        Dimensi Ilmu
13.        Struktur Ilmu
14.        Filsafat Ilmu Transoprmatif



 Reference
Klasifikasi Kandungan Al-Qur,an oleh Choirudin Hadhiri, SP : Gema Insani
Filsafat Ilmu : A. Tafsir, Rosda Karya
Filsafat Ilmu : Cecep Sumarna, Pustaka Bani Quraisy
Filsafat Ilmu : Jujun S Suriasumantri, Pustaka Sinar Harapan
Pengantar Filsafat Ilmu : The Liang Gie, Liberty Yogyakarta
Filsafat Ilmu : Juhaya S Pradja, Program PPS UIN
Filsafat Ilmu Al-Ghazaly : Saeful Anwar, Pustaka Setia




Definisi:
Filsafat Manusia Bagian integral dari sistem filsafat, yang secara spesifik menyoroti hakekat manusia atau esensi manusia

Secara metodologi, filsafat manusia sama dengan filsafat lainnya seperti; etika, kosmologis epistemologis, estetika, filsafat sosial, dll. Secara kedudukan filsafat manusi relatif lebih penting. Karena semua cabang filsafat tersebut prinsipnya bermuara pada persoalan asasi dan esensi manusia.

Filsafat manusa & ilmu-ilmu tentang manusia
Obyek materia ilmu-ilmu manusia & filsafat manusia sama-sama berobyekkan pada manusia
Obyek forma ilmu-ilmu manusia mendasarkan penyelidikan pada gejala empiris
Obyek forma filsafat manusia tidak membatasi diri penyelidikan pada gejala empiris saja

Ciri-ciri Filsafat manusia
Ekstensif  : filsafat manusia mengkaji seluruh sinopsis tentang realitas manusia berbeda dgn ilmu kemanusiaan yang hanya mendasar pada kajian empirik

Intensif : filsafat manusia hendak  menggali inti, hakekat (esensi) akar atau struktur yang berkaitan dengan manusia

Kritis:



Pertemuan  ke-3
Tema : Hakekat Manusia

a.     Siapa manusia? (Material & immaterial)
Manusia adalah makhluk Allah,
1.  diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya Al-Isra (17) :70, At-Tiin (95) : 4
2.  makhluk  yang  paling sempurna At-Tiin (95) : 4;  at-Thaariq (86) : 5-7; As-Sajdah (32) : 7-9; Al-Isra (17) : 70; Al-Hajr (15) : 26; Al-Insan (76) : 2; Al ‘alaq (96) : 2

Secara
Manusia berasal dari materi & Immateri, Manusia diciptakan melalui beberapa tingkatan kejadian Nuh (71) : 14.  Proses kejadiannya terdiri dari empat proses yang berbeda:
3.  Kejadian Adam  dari tanah turob (tanah)  Ali Imran (3) : 59
dari tanah liat kering Al-Hijr (15) : 28
dari lumpur hitam yg diberi bentuk Ar-rahman (55) : 14; Al-Isra (17) : 17
dari tanah liat Ash-shaafat (37) : 11; As-Sajdah (32) : 7
Allah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ruh (ciptaan)-Nya  Al-Hijr (15) : 29; As-Sajdah (32) : 9
4.  Kejadian Hawa
Dari diri adam dijadikan Allah seorang wanita Hawa namanya An-Nisa (4) : 1
Adam nenek moyang manusia Az-Zumar (39) : 6  
5.  Kejadian Isa
Isa putra maryam terjadi dengan kalimat-Nya An-Nisa (4) : 171
Dan ditiupkan ruh daripada-Nya Al-Anbiya (21) : 91
Penciptaan Isa seperti penciptaan Adam Ali Imran  (3) : 59

6.  Kejadian manusia secara umum
Dari suatu waktu yang  Al-Insaan (76) : 1
Ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut  Al-Insaan (76) : 2
Dari saripati tanah As-Sajdah (32) : 7
Dari saripati air yang  hina (air mani) As-Sajdah (32) : 8
Air mani itu disimpan dalam rahim yang sangat kukuh Al-Mu’minun (23) : 12
Setelah terpancar dari tulang sulbi laki-laki At-Thariq (86) : 5 dan tulang dada manusia - At-Thariq (86) : 7
Jadilah segumpal darah Al-Mu’minun (23) : 14,
kemudian jadilah segumpal daging, kemudian jadilah tulang belulang Ali Imran (3) : 6, kemudian dibungkus dengan daging Al-Infithaar (82) : 7,
terbentuklah dalam rahim dengan bentuk lain Al-Infithaar (82) : 8,
kemudian ditiupkan ruh kepadanya As-Sajdah (32) : 9
 

b.     Dari mana manusia ?
Diciptakan Allah Al-A‘raf (7) : 29
c.      Apa tujuannya?

·        Manusia diciptakan bukan main-main Al-Mu’minun  (23) : 115
·        Melainkan untuk mengemban amanah  Al-Ahzab (33) : 72
·        Tugas keagamaan: mengabdi dan beribadah Adz-Dzaariyat (51) : 56; menyembah Allah Al-Fatihah  (1) : 5
·        Khalifah dan pengelola di bumi Al-Baqarah  (2) : 30, untuk memakmurkan bumi Huud (11) : 61
·        Untuk amar ma’ruf nahi munkar Ali-Imran  (3) : 10
·        Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Adz-Dzaariyat (51) : 56

Dengan tujuan di atas maka manusia
1.     Penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi  2:30; 24:55

d.     Hendak kemana manusia?
kembali kepada Allah Al-A‘raf (7) : 29



e.      Mengapa Manusia ada?

Sunhaji
Malaikat tahu manusia perusak?
Adam tidak langsung ke bumi tp ke surge dulu?
Penghuni alam sebelum nabi Adam?
Persaksian bersama/satu persatu?

Manusia dalam pendekatan Filsafat

Manusia dalam pendekatan Filsafat Islam : Manusia dalam pandangan al-Qur’an
Esensi Manusia dalam pendekatan Filsafat Barat:

Siapa Manusia?  
1.           Manusia secara struktural:
·        Materialisme: Esensi manusia material atau fisik. Ciri utama kenyataan fisik atau material adalah  bahwa ia memiliki ruang dan waktu, memiliki keluasaan (res exstensa), bersidaf obyektif.  Karena menempati ruang dan waktu, maka ia bisa diukur, dikuantifikasi (dihitung), di observasi. Alam spiritual dan jiwa yang tidak menempati ruang tidak bisa disebut esensi,
·        Idealisme : Kenyataan sejati adalah besifat spiritual. Para idealis percaya bahwa ada kekuatan atau kenyataan spiritual dibelakang setiap penampakan atau kejadian. Esensi kenyataan spiritual ini adalah berpikir (res cogiten).  Karena kekuatan spriritual tidak bisa diukur dengan pengamatan empiris, maka kita hanya bisa menggunakan metaphor-metapor kesadaran manusia
·        Dualisme (Deskartes): kenyataan sejati pada dasarnya adalah : fisik maupun spiritual (material dan immaterial).  Manusia tidak bisa diasalkan hanya hanya pada satu substansi atau esensi saja. Tidak betul bahwa esensi kenyataan adalah sesuatu  yang bersifat fisik material. Karena banyak kejadian di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan berdasarkan pada gejala empirical saja. Tidak benar juga jika dikatakan bahwa esensi kenyataan adalah ruh atau jiwa sesuatu.
·        Vitalisme: Kenyataan sejati pada dasarnya adalah energy, kekuatan atau nafsu yang bersifat irasional atau tidak rasional dan instingtingtif (liar). Seluruh aktivitas manusia pada dasarnya adalah perwujudan dari energy-energi, daya-daya atau kekuatan-keuatan yang tidak rasional atau instingtif. Setiap keputusan atau perilaku manusia yang diangggap “rasional” pada dasarnya adalah rasionalisasi saja dari keputusan-keputusan yang tidak rasional
·        Eksistensialisme. Sesuatu yang sanggup keluar dari keberadaannya atau sesuatu yang mampu melampoi dirinya sendiri. Mengacu pada yang konkrit dan dinamis




Filsafat Islam menyoal manusia

# Al-kindi : ( teori mengenai badaniah / materi & ruh / non materi)
" Jiwa dan raga masing masing memiliki wujud tersendiri, sebab raga penuh dengan hawa nafsu, dan jiwa selalu berusaha menentangnya. Berkat kesuciannya, jiwa mampu menangkap pengetahuan sejati yang bersifat spiritual.
Sedangkan indra hanya sanggup menangkap unsur material. Pengetahuan indrawi manusia semacam ini tak ubahnya seperti pengetahuan binatang ".
teori yang menyatakan ruh dan badaniah adalah terpisah :
" Kematian manusia menjadi momen perpisahan jiwa dari raga. Raga yang tersusun dari materi mengalami kepunahan, sedang jiwa terus berada dalam kehidupan ( abadi )

ikhwan ash - shafa ( abad 10M )
Teori mengenai pluralitas agama :
" Agama para nabi tidak saling bertentangan dalam lapangan akidah. Para nabi hanya berbeda dalam hal syariat ( hukum ) . Sebagaimana ALLAH berfirman " dan bagi tiap tiap umat dikalangan kamu, kami jadikan suatu syariat dan cara hidup, bagi tiap umat kami berikan satu cara beribadat untuk mereka laksanakan "
Kelompok ikhwan ash shafa menyatakan bahwa perbedaan syariat bukan hal yang mengkhawatirkan, sebab kondisi sosio-kultural umat tak pernah sama dari masa ke masa. Banyak mahzab dalam satu agama dipandang wajar dari perbedaan aktualitas potensi potensi jiwa manusia. Yaitu perbedaan aktualitas potensi -potensi jiwa manusia.
Apa yang tidak wajar adalah fanatisme terhadap suatu mahzab.

Teori jiwa manusia dan evolusi raga :
" Seperti al kindi, Ar - razi, dan al farabi, kelompok ini memandang manuia terdiri dari dua unsur : jiwa yang bersifat non materi , dan raga yang merupakan materi.
bahwa adam & hawa turun berbentuk ruh untuk masuk kedalam raga.

# Ibnu miskawih ( 940-1030 )
Teori evolusi :
" Evolusi berlangsung dari alam mineral ke alam tumbuhan, berlanjut ke alam binatang, dan seterusnya ke alam manusia. Transisi dari alam mineral ke alam manusia melalui merjan, dari alam tumbuhan ke alam binatang melalui pohon kurma, dan alam binatang ke alam manusia melalui kera "

# Ibnu sina ( Avicenna )
teori jiwa dan raga :
" Jiwa merupakan satu kesatuan dan memiliki wujud sendiri. Jiwa nihil dari fungsi fungsi fisikal, dan tugasnya ialah untuk berpikir. Dalam rangka ini , jiwa memerlukan tubuh. pada mulanya tubuh menolong jiwa.
Panca indera dan daya batin jiwa binatang yang meliputi indera bersama, estimasi dan rekoleksi pada gilirannya membantu jiwa memperoleh konsep dan ide dari alam sekelilignya . Jika jiwa mencapai kesempurnaan dengan mendapatkan konsep konsep dasar yang diperlukannya, ia pun tidak memerlukan tubuh. Bahkan ,tubuh beserta daya-daya binatang yang terdapat didalamnya akan menjadi penghalang bagi tercapainya kesempurnaan.
Sementara jiwa binatang dan tumbuhan yang hanya mempunyai fungsi fisikal akan hancur seiring matinya tubuh, dan tak akan pernah hidup kembali. Sedangkan jiwa manusia, karena berhubungan dengan hal-hal abstrak, akan memperoleh balasan diakhirat kelak. Jiwa manusia akan kekal, tetapi jiwa materi akan musnah.

# Al - Ghazali
Teori mengenai raga dan ruh
Bahkan tokoh sekaliber AL - Ghazali yang awalnya filsuf, dan fuqaha lalu bertransformasi menjadi ahli sufi . Lalu beliau menentang ahli ahli filsafat islam, juga meyakini mengenai perbedaannya teori raga dan ruh .
Dikitabnya : ihya' ulum al-din . menyatakan bahwa " nikmat dan azab kubur itu terjadi secara ruhaniah saja.

Masih banyak, filsuf-filsuf lainnya yang tidak disebutkan dalam artikel yang terbatas ini, seperti ibnu bajah, ibnu rusyid, syahrawadi juga banyak lainnya.

Namun, dengan pemahaman ini kita memiliki pemahaman bahwa, filsuf era islam memiliki teori filsafat yang mampu menyamai filsuf filsuf barat, walaupun bukan dalam arti ke superioritas, namun " mampu menyamai" karena nama-nama besar ini jarang terdengar dibuku -buku  filsafat yang " dikuasai oleh pemahaman barat " , buku buku yang dicetak pada masa era abad 19-20 ,saat barat lebih superior dibandingkan non barat.
Sehingga banyak yang meng-identikan bahwa filsafat adalah ilmu yang menyalahi akidah, layaknya para filsuf barat yang cenderung mengedepankan rasio dan nalar dan terkesan melawan  dogmatis dan otoritas vatikan saat era pencerahan eropa.


SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER

Mata Kuliah                   : Filsafat Manusia


Petujuk:
Jawab pertanyaan dibawah ini dengan simple
Anda diberi kesempatan untuk menjawab soal ini selama 1 jam 30 menit

Soal:
1.     Coba Saudara ungkap perbedaan dan persamaan berpikir dan berfilsafat!
2.     Salah satu cabang fisafat adalah filsafat manusia, mengapa harus muncul filsafat manusia? Apa tujuannya? Bagaimana kaitannya urgensi mempelajari filsafat manusia dengan psikologi?
3.     Hakekat manusia  bisa diungkap dari perspektif  filsafat dan pespektif  Al-qur’an, coba saudara jelaskan hakekat manusia dari dua perspektif yang berbeda



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar